Sabtu, 12 Mei 2012

Monyet Punah Ditemukan Lagi di Indonesia



ERIC FELLLagur abu-abu (Presbytis hosei canicrus).

JAKARTA, KOMPAS.com — Ilmuwan yang meneliti hutan hujan tropis di Indonesia menemukan kembali spesies monyet besar dan berwarna abu-abu yang diduga telah punah. Mereka menemukan kembalilangur abu-abu (Presbytis hosei canicrus) yang memiliki wajah hitam dengan bulu-bulu halus di bagian leher yang berwarna abu-abu.

Penemuan itu tak disengaja. Tim sebenarnya sedang memasang kamera jebakan untuk menangkap gambar orangutan, leopard, dan lainnya di hutan Wehea, bagian timur Kalimantan, Juni 2011. Tak disangka, grup monyet yang tak pernah dijumpai sebelumnya muncul.

Penemuan itu menantang tim ilmuwan yang dikepalai oleh Brent Loken dari Simon Fraser University di Kanada. Mereka tak punya foto langur abu-abu. Satu-satunya yang dimiliki adalah sketsa dari museum. "Kami gembira luar biasa mengetahui fakta bahwa ternyata monyet jenis ini masih ada, juga bahwa ini didapati di Wehea," kata Loken seperti dikutip AP, Jumat (20/1/2012). 

Langur yang memiliki ciri mata agak tertutup dan hidung serta bibir yang berwarna sedikit pink ini dipercaya tersebar di Kalimantan, Jawa, Sumatera, dan Thailand. Namun, sebelumnya dinyatakan bahwa jenis ini sudah punah. 

Aktivitas pembakaran hutan, konversi lahan, dan pertambangan diduga menjadi sebab jenis ini makin sulit ditemukan. "Bagi saya, penemuan monyet ini adalah representasi betapa banyaknya spesies yang ada di Indonesia," ucap Loken.

"Ada banyak satwa yang ciri khas dan sebarannya sangat sedikit kita ketahui menghilang begitu cepat. Rasanya, banyak jenis satwa ini akan punah dengan cepat," tambah Loken.

Sebagai langkah lanjut dari penemuan ini, ilmuwan akan meneliti lebih jauh jumlah langur abu-abu yang ada di wilayah seluas 38.000 hektar. Sejumlah ilmuwan internasional dan dari Indonesia akan terlibat. "Kita akan coba sebisa mungkin. Namun, ini seperti berpacu melawan waktu," kata Loken.

Pakar primata yang tak tergabung dalam studi ini, Erick Meijaard, menyatakan dukungan terhadap upaya para ilmuwan. "Ini adalah spesies yang penuh teka-teki," katanya.

Meijaard mengungkapkan, langur abu-abu dipercaya merupakan subspesies dari monyet daun Indonesia (Presbytis hosei) yang juga terdapat di wilayah Malaysia di Borneo. Namun, ada dugaan bahwa langur abu-abu adalah spesies yang berbeda.

"Kami berpikir bahwa mungkin ini spesies yang berbeda. Ini menjadikan penemuan di Kalimantan ini jauh lebih penting," kata Meijaard



Indonesia tidak Miliki Sistem Kontrol Kesejahteraan Satwa


DENPASAR--MICOM: Juru Kampanye dari Centre for Orangutan Protection (COP) Daniek Hendarto mengatakan Indonesia belum memiliki sistem yang memadai untuk mengontrol kualitas hidup satwa liar yang dipelihara kebun binatang.
Saat ini, yang ada di dalam kebun binatang hanya mengontrol kuantitas.
"Setiap 3 bulan sekali lembaga-lembaga konservasi ex-situ seperti kebun binatang dan pusat penyelamatan satwa selalu melaporkan jumlah satwa yang masuk dan keluar kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat. Petugas BKSDA kemudian melakukan pengecekan," ujar Daniek, saat ditemui di Denpasar, Sabtu (10/9).
Menurutnya, sistem kontrol tersebut juga tidak dimiliki Perhimpunan Kebun Binatang Indonesia (PKBSI).
Selama ini PKBSI hanya mengatur kode etik dan tidak memiliki wewenang untuk menghukum anggotanya yang memperlakukan satwanya dengan kejam.
Lagi pula, saat ini tidak seluruh kebun binatang dan pusat penyelamatan satwa menjadi anggota PKBSI.
"Sistem tersebut tidak berpengaruh langsung pada kualitas hidup satwa liar karena para pengelola kebun binatang hanya dibebani tanggung jawab hidup-matinya satwa, bukan kualitas hidup satwa. Dalam banyak hal, satwa liar memang mampu bertahan hidup dalam kondisi yang buruk seperti kurang pakan dan kandang yang tidak memadai," ujarnya.
Ia menyatakan pemerintah semestinya menerapkan sistem kontrol dengan menggandeng seluruh pihak terkait terutama yang berhubungan dengan kesejahteraan satwa tersebut.
Untuk itu Centre for Orangutan Protection meminta agar Kementerian Kehutanan untuk melakukan kontrol terhadap kualitas hidup satwa liar termasuk orangutan yang dikelola oleh kebun binatang.
Dengan demikian, kasus kematian satwa liar atau gangguan jiwa pada orangutan karena buruknya perlakuan dapat dicegah.
Kementerian Kehutanan harus segera menerbitkan aturan yang memaksa seluruh kebun binatang menjadi anggota PKBSI dan memberikan PKBSI peran yang lebih besar untuk dapat membantu Kementerian Kehutanan melakukan supervisi kualitas pemeliharaan satwa di kebun-kebun binatang, termasuk memberikan rekomendasi hukuman, seperti pencabutan izin.
Kementerian Kehutanan hendaknya membentuk sebuah tim terbang yang bertugas untuk mendampingi kebun-kebun binatang untuk memperbaiki kesejahteraan satwanya.
Kebijakan ini seperti ini sudah dilakukan oleh Pemerintah Malaysia baru-baru ini dan terbukti efektif untuk menolong satwa liar yang diperlakukan buruk di kebun binatang. 

Sirip Hiu Diincar, Ekosistem Raja Ampat Terancam


Jakarta Tak ada yang menyangkal keindahan Raja Ampat nun di Papua Barat sana. Tapi sayang, ekosistem Raja Ampat terancam gara-gara nelayan ilegal mengincar hiu. Maklum, harga sirip hiu di pasaran sungguh menggiurkan.

Tak urung, Conservation International (CI) Indonesia menyayangkan lolosnya 33 nelayan yang menangkap hiu secara ilegal di kawasan konservasi hiu di Raja Ampat. Para nelayan tersebut sempat ditahan oleh gabungan patroli gabungan masyarakat adat kampung Salyo dan Selpele serta Pos Angkatan Laut Waisai pada hari Senin (30/4) di perairan Raja Ampat.

Dari penyergapan tersebut, tim patroli menyita barang bukti sirip hiu, bangkai ikan hiu, pari, manta, dan teripang yang diperkirakan bernilai Rp 1,5 miliar. Semua hasil tangkapan nelayan dan dokumen kapal disita dan nelayan diperintahkan untuk mengikuti kapal patroli ke pelabuhan Waisai. Sayangnya, mereka melarikan diri dan kini masih dalam pengejaran.

Direktur Eksekutif Conservation International Indonesia Ketut Sarjana Putra menyatakan keprihatinannya atas kejadian ini. “Penangkapan ikan secara ilegal di kawasan konservasi hiu Raja Ampat merupakan kejadian yang sangat kami sesalkan. Tindakan ilegal para nelayan itu dapat merusak proses peremajaan hiu di kawasan konservasi perairan Raja Ampat. Hal ini jelas merugikan masyarakat lokal karena mengurangi ketersediaan ikan hiu yang bernilai ekonomi tinggi bagi mereka,” ungkapnya dalam siaran pers, Minggu (6/5/2012).

Atas kejadian tersebut, pemerintah telah mengirimkan bantuan patroli serta menempatkan polisi perairan dan pos Angkatan Laut di sekitar Pulau Sayang, Kabupaten Raja Ampat. Pemerintah juga menempatkan polisi perairan di Pulau Wayag sejak tanggal 4 Mei 2012.

“Kami sangat menghargai upaya pemerintah yang dengan cepat membantu mengirimkan aparat penegak hukum. Kami juga berharap agar kapal pelanggar dapat dikejar dan pelakunya ditangkap serta diproses secara hukum,” papar Ketut.

Aktivitas ilegal kapal penangkap ikan terjadi di sekitar Pulau Sayang dan Pulau Piai yang terdapat di dalam Kawasan Konservasi Perairan Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat. Berdasarkan adat, kawasan ini dimiliki secara turun temurun oleh suku Kawe. Sejak empat tahun lalu suku Kawe secara adat telah menyatakan area seluas 155.000 hektar di Wayag dan Sayang tertutup untuk kegiatan penangkapan ikan. Penutupan dilakukan untuk membangun bank ikan bagi perairan sekitar yang merupakan sumber mata pencarian bagi masyarakat untuk menangkap ikan.

Kawasan tertutup ini dipantau secara rutin selama 24 jam secara bergantian oleh anggota masyarakat adat Kawe.

Menanggapi kejadian tersebut Sekretaris Daerah Raja Ampat Ferdinand Dimara turut menyatakan keprihatinannya. “Aktivitas nelayan ilegal di Pulau Sayang jelas melanggar peraturan kawasan konservasi yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Raja Ampat dan Pemerintah Nasional. Usaha masyarakat Kawe dalam menjaga sumber daya lautnya sangat terpuji dan kita perlu mendukung usaha mereka dalam menjaga perairan untuk masa depan mereka,” tegasnya.

Tokoh Adat dan Masyarakat Raja Ampat Hengky Gaman mengecam kejadian tersebut dan meminta pemerintah melakukan tindakan tegas. “Pemerintah harus memberikan hukuman berat kepada nelayan ilegal karena mereka telah melakukan pencurian di wilayah yang selama ini kami lindungi. Nelayan ilegal tersebut harus membayar denda adat kepada orang Kawe sebagai pemilik hak adat atas wilayah pulau Sayang,” serunya.

Dari tujuh kapal yang digunakan nelayan, satu kapal berasal dari Buton, dua kapal berasal dari Sorong, dan empat kapal berasal dari Kampung Yoi, Halmahera. Tidak satupun nelayan berasal dari Raja Ampat. 

Conservation International (CI) bekerja di wilayah seluas 183.000 km di Kepala Burung, Papua dengan tujuan merancang wilayah tersebut menjadi sumber mata pencarian bagi masyarakat setempat yang sangat bergantung pada laut.

“CI membantu memperkuat ketahanan pangan masyarakat setempat serta menjadikan wilayah ini sebagai tujuan wisata kelas dunia dan sebagai pilar pembangunan ekonomi kreatif di Indonesia,” pungkas Ketut.

Hiu memainkan peran penting dalam dunia perikanan dan kesehatan ekosistem. Hiu yang
hidup di alam aslinya dapat menghasilkan pendapatan pariwisata yang besar. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Australian Institute of Marine Science pada tahun 2010 di Palau, seekor hiu karang diperkirakan memiliki nilai ekonomis tahunan Rp1,6 miliar dan nilai seumur hidup sebesar Rp 17,5 miliar untuk industri pariwisata. Kawasan Raja Ampat memiliki potensi pariwisata hiu sebesar Rp165 miliar per tahun dan menyumbang pendapatan daerah sebesar Rp2,5 miliar per tahun dari sektor pariwisata.

Indonesia adalah negara yang memiliki jumlah hiu terbesar di dunia namun ironisnya populasi hiu terus menurun. Di masa lalu, perburuan sirip hiu lazim dilakukan di Raja Ampat, terutama oleh nelayan yang berasal dari luar Raja Ampat. Mereka tertarik datang berburu ke Raja Ampat, yang pada tahun 90-an dianggap sebagai salah satu daerah terakhir di Indonesia yang memiliki populasi hiu yang sehat. Populasi hiu pun kemudian menurun akibat pengambilan ikan secara besar-besaran.

Selama lima tahun terakhir, dengan pembentukan jaringan Kawasan Konservasi Perairan dan pembentukan Kawasan Konservasi Hiu di Raja Ampat, mulai terlihat tanda-tanda pemulihan populasi hiu. Kejadian pembantaian hiu ini menandai suatu kemunduran dalam proses pemulihan populasi hiu di Kawasan konservasi Perairan Kawe dan Raja Ampat secara keseluruhan. Walaupun demikian, reaksi cepat dari masyarakat dan pemerintah daerah menunjukkan komitmen mereka untuk menegakkan peraturan Kawasan Konservasi Perairan dan Kawasan Konservasi Hiu.

Sabtu, 05 Mei 2012

SEMINAR

bukan hanya SEMINAR aja nih teman-teman.. Ada TALKSHOW nya juga. Tema yang kita ambil yaitu "Maintaining Biodiversity in Indonesia with Biotechnologi". 


Harga tiket:
Mahasiswa/pelajar : 35.000/org
Umum : 40.000

Sistem pembayaran bisa On the spot dan Online loh :)

Online:
Pembayaran dapat dilakukan dengan cara, Transfer atas nama :
Bank Syariah Mandiri
1120055276
a.n. Salma Imanina (UAI)
bukti pembayaran agar dibawa saat acara untuk di tukar dengan tiket.

Transfer sejumlah
Mahasiswa/SMA : Rp 35.000 + 3 digit dibelakang no HP
UMUM              :  Rp 40.000 + 3 digit dibelakang no HP

Kemudian, segera konfirmasi dengan cara SMS:

SMS: NAMA#Asal sekolah/Universitas#Jumlah Transfer + 3 digit dibelakang no Hp#Tanggal transfer#Waktu transfer#atas nama.

Kirim ke:
Nurlaila 0856 9230 0605
Bella 0856 9108 8270

contoh :
Budi#SMA Makmur#35.123#18 April 2012#20.31#Budi Susanto.

On the spot :
Registrasi    : 9 Juni 2012 jam 07.00 - 09.00 
Tempat      : Lantai 3 Ruang Auditorium Arifin Panigoro UAI (Univesrsitas Al-Azhar Indonesia)



Minggu, 15 April 2012

Acaranya...

Berbagai acara serta lomba yang diadakan, yaitu

Lomba Karya tulis ilmiah (LKTI)
Lomba Foto
Seminar
Talkshow

Pokoknya dijamin deh acaranya menariiikk... jangan sampai ketinggalan yaaahhh info2 terupdate... Update teruus blog kami disini nih..
dan twitternya juga..
twitter: @BIOTECHFAIR_UAI


FILOSOFI LOGO


Elemen Estetis Pembentukan Logo
1. Garis
Otto Neurath (1882 – 1945) seorang pengajar dan ilmuwan sosial, yang pertama kali menamakan garis sebagai sebuah elemen sebuah simbol yang mempunyai makna secara khusus.
Gambar bumi terbentuk dari garis vertikal, horizontal dan lengkung.
       -Vertikal     :Stabilitas, kekuatan   atau kemegahan
       -Horizontal : Memberi sugesti   ketenangan
       -Lengkung  : Keanggunan
2. Bentuk
(Gambar Bumi)
Bulat : Filosofi lingkaran untuk kesuksesan, berproses  dari tidak ada menjadi ada
(Gambar Burung Merak)
Elips: sebagai salah satu varian dari lingkaran yang dimodifikasi bermakna bahwa bentuk ini membawa pembaharuan dan kreatifitasan.

3. Warna
- Hijau: Hijau memiliki arti kuat dalam mendukung nama dan tagline, serta memiliki makna yang menurut Surianto Rustan S.Sn ialah: Kecerdasan tinggi, alam, kesuburan, masa muda, keramahan, keseimbangan, kreatif, harmoni dan ketenangan. 

Hijau tua: Warna hijau tua termasuk dalam kelas warna ‘dingin’ dan membawa kesegaran pada mata. Hijau melambangkan kesegaran, kealamian, dan pembaharuan. 

- Chartreuse: Merupakan varian warna hijau yang dimodifikasi.  Chartreuse dibuat dengan ekstrak mermacam-macam jenis tanaman dan menghasilkan warna hijau chartreuse.

- Biru laut: Warna biru merupakan salah satu warna dasar dan melambangkan kepercayaan, keamanan, teknologi, kebersihan, , teguh dan kokoh, serta keteraturan. Warna biru termasuk warna dingin dan membawa ketenangan bagi yang melihatnya.

- Hitam: Hitam melambangakan keanggunan (Elegance), kekuatan, ketegasan kemakmuran (Wealth) dan kecanggihan (Sopiscated). 

- Abu-abu: Menyimbolkan intelektualitas dan teknologi yang tinggi. Warna ini banyak digunakan untuk menggambarkan masa depan. Sebagai warna logam, dan bebatuan mencerminkan jiwa muda yang selalu mengininkan pembaharuan.

MAKNA LOGO SECARA KESELURUHAN

Logo terdiri dari bumi, ombak, dan tulisan ‘BIOTECHFAIR Universitas Al Azhar Indonesia’. Pada gambar bumi terlihat Indonesia sebagai fokusnya yang mengisyaratkan bahwa Indonesia sebagai jantung dunia yang tepat terletak di aris katulistiwa dan menandakan bahwa Indonesia adalah negara yang penting dan unik. Selain karena diapit dua buah benua, namun juga karena Indonesia terdiri dari pulau-pulau yang membuatnya semakin kaya akan keanekaragaman hayatinya.

Selain terlihat seperti merak, pada gambar ekor burung merak tersebut juga melambangkan ombak lautan. Biodiversity yang terdiri dari hewan dan tumbuhan dapat terlihat dari gambar burung merak sebagai represent dari hewan dan kayu dari tumbuhan. Seperti halnya yang kita ketahui bahwa keanekaragaman hayati terdiri dari ekosistem akuatik dan terestrial (darat). Sehingga ekosistem akuatik di-represent oleh ombak lautan dan ekosistem terestrial oleh tulisan ‘BIOTECHFAIR’ yang berbentuk kayu pohon. 





ü
üH

Sabtu, 14 April 2012

seminar dengan tema "BIODIVERSITAS". seminar ini diadakan oleh mahasiswa prodi biologi (biotek) Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Al-azhar Indonesia